Sunday, March 20, 2011

Correct Your “Niat”




I met one of foreigner MO who doing his specialty in USM in Seven Eleven Shop. Havent seen him for months because he currently doing his attachment in HRPZ.


Well, he did help me a lot when i was in fourth year especially teaching me during the on-call as well as during the ward session.


He’s quite friendly and easy going. Maybe that’s the reason why i can easily built rapport with him. Sometimes, we talk like friends even though they are student-teacher barrier that needs to be respected and not to be crossed.


“Doctor, my final exam is less than a month now. i’m so afraid. Please pray for me”


“Dont worry my friend. Study hard and pray a lot. InsyaALLAH you will pass.”


“I dont know doctor, it’s hard to tell.”


“Well, another thing is, there’s something inside your chest.”, while pointing to my heart.


“Hold it and REMEMBER. Your ‘Niat’ is inside it! Always correct your NIAT!”


What is my NIAT of doing medicine?


Well yes, i might go a lil bit astray initially. But as time passes, i eventually made clear of myself. I want to graduate and serve as a MUSLIM DOCTOR. A Doctor who will carry out his duty in the name of Allah.


Indeed, sometimes, a soft voice whispering to my ears on how popular i am when have a ‘dr’ title inside my name. You can do everything. Lot of money inside your pocket, you will be famous and get girlfriendS easily. You can live your life till the fullest. Do everything you want.


But is that the purpose of life? Is that the reason why GOD create you at the first place?


InsyaALLAH! Even though my chance is 50-50 and there’s a lot of thing which i didn't cover and keep puzzle every time the lecturer ask the questions, i will try my best. I Promise i will fight till the end for this exam no matter what will be the outcome.


As my favorite Professor in Orthopedic said to me.


“There’s no such thing as withdrawal! Go for it.”


And while i was dazzled, he then shout.


“Go Go Go! GO BACK and STUDY! There’s still time for it”.


InsyaALLAH Prof! I will not give up. I Will try my best!


28 More days for exam........

Tuesday, March 15, 2011

When the heart Cries


At near the end of my third year student life, i was so stressed with few thing. While struggling for the professional II examination, there was also some political campus conflict in which i also involved in that. To make thing worse, they were also few internal problem. They were all causing my mind to twist and gave a great distress to me.


I was crying alone in my room with the tear drops like a rain of the cats and dogs. I was so emotionally unstable and nearly gives my hope.


And there was one song who help me to stand up again and cure my soul.


What the heck? A Song?


Well, basically yes. The song is in hebrew and recommended by my friend who studied about Judaism deeply. The song’s title is Kshehalev Boche by Sarit Hadad. It means, “when the heart cries.”


If you truly take time to understands the meaning behinds the song, it is truly amazing. Sometimes, it make me wonder, how on earth do the jewish can create such a beautiful song emphasizing the relationship between the man and the GOD?


After all, not all of them are terrorist and bad... try to search on the internet for that song. You will surely love it. It’s really amazing.


When the heart cries only God hears

The pain rises from the soul

A man falls down before he sinks

He cuts the silence with a small prayer


Shma Israel, my God, you are the mighty one

You gave me my life you gave me everything

A tear in my eyes, the heart cries in silence

And when the heart is silent the soul cries out


Shma Israel, my God, I am all alone now

Make me strong, my God, so I will not be afraid

The pain is great and there is no where to run

Make it end, I don’t have any strength left

When the heart cries time stands still


A man sees his life passing in front of him

He doesn’t want to go to the unknown

He calls his God as he stands on the edge of the deep

Dan aku kembali diuji




Ya Allah jangan KAU coba aku, melebihi batas mampu dan sanggupku. Ya Allah bila memang Kau coba, aku percaya Kau sayang padaku. Ya Allah lindungilah diriku, dari yang menjahati menzhalimiku. Ya Allah Kaulah Maha Segala, engkaulah pelindung hidup dan matiku. [Ya Allah, Wali Band]


Duhai Tuhan yang maha agung, sungguh aku kini diuji oleh Mu. Setiap langkahku lemah longlai kerana tak mampu ku fahami nilai disebalik ujianMU. Hitam gelap kah hatiku ini hingga payah benar aku untuk belajar redha dengan apa yang KAU kurniakan padaku.


Ya Allah, banyak benar nikmat yang kau berikan padaku. Mungkin itu melalaikanku hingga ku menyangka bahawa KAU kan senantiasa menyebelahiku. Di sebalik alpa ku akan indahnya nikmat itu, tercetus juga rasa gusar di hatiku. Adakah pemberianMU itu bakal meragut apa yang aku benar-benar inginkan?


Lantas aku malu. Malu untuk terus meminta denganMU. Kerana banyak yang sudah kau beri untukku. Yang ku idamkan tapi malu untuk ku akuinya. Dan KAU yang mendengar isi hatiku akhirnya mengabulkannya.


Dan kini! Ketakutan itu semakin menjauhkan aku dariMU. Namun disudut hatiku, aku berteriak memanggil namaMU. Kerna ku tahu, ku tak bisa hidup tanpaMU.


Dan kini aku redho akan segalanya. Telah ku yakinkan diriku untuk menerima segala yang kau tentukan. Baik buruknya pada pandangan mataku, ku yakin itulah yang terbaik pada pandanganMU.


Namun, kurniakan daku kekuatan untuk ku hadapi nya andai ia membuatkan aku terluka begitu dalam sekali. Sabarkan aku andai tangisan menjadi temanku nanti. Kurniakan daku upaya untuk ku mengesat air mataku nanti.


Namun andai keputusanMU selari dengan kehendakku, sedarkan aku akan tanggungjawab dan janjiku padaMU. Agar aku terus berlari menuju ke pangkuanMU nanti.

Sunday, March 13, 2011

Rapuh

Bismillahirrahmanirrahim......


Aku sungguh rapuh sekali tika ini. Berkali-kali aku mencuba untuk memastikan agar semangat ini tidak pecah berderai. Namun, ada retakan halus padanya yang semakin mengkikis kekuatan yang dibina.


Allah!


Diri ini sudah penat memberikan kata-kata dorongan dan semangat pada jiwa untuk terus bertahan dan berjuang. Namun, terasa bagaikan ia hanya penipuan semata-mata. Kebenaran masih jauh sedang diri hanya beberapa tapak melewati garis permulaan. Mampukah aku meraih kebenaran bahawa aku telah benar-benar bersedia?


Dalam senyum, hatiku menangis memikirkan ketidaktentuan masa hadapan. Walau aku mengatakan bahawa masa sekarang yang paling penting kerana ia akan mencorakkan masa depan, namun aku sendiri kurang yakin samada mampu untuk melakar sesuatu pada saat ini.


Memang diri ini yang wajar dipersalahkan. Aku mengaku silapku yang kurang mahir dalam menguruskan masa. Berkali-kali aku sedar kesilapan ku itu namun tidak pernah aku betul-betul mengubahnya. Sering sahaja hangat-hangat tahi ayam!


Ah!


Masa yang hilang tak kan kembali. Banyak sangat-sangat silibus yang belum dikhatamkan. Apabila ku luahkan pada teman, masing-masing enggan mempercayainya. Bahkan ada yang seraya mengejek bahawa mana mungkin aku tidak membacanya.


Aku tidak berbohong!


Dan kini aku semakin ketakutan. Aku ingin mengaku kalah. Aku ingin berputus asa. Roh hitam dalam diri semakin kuat membisikkan racun agar aku berpaling dari menghadapi pertempuran ini.


Namun, aku terkenang pula wajah mereka yang tidak jemu memberikan kata dorongan agarku terus kuat. Ibu-bapaku yang paling utama! Mereka telah memberi segalanya demi untuk kesenanganku. Mampukah aku menatap wajah mereka andai aku berputus asa?


Doa dan bicara pesakit terhadapku. Adakah ia hanya bakal menjadi satu kata yang sia-sia?


Keyakinan yang diberi oleh pensyarah terhadapku. Adakah aku akan mensia-siakannya? Aku malu untuk bertemu mereka. Malu memikirkan bahawa mereka telah tersilap kerana menyangka bahawa aku sudah bersedia untuk menjadi doktor. Mungkinkah mereka akan kecewa nanti?


Hanya ada tiga jalan untukku kini. Tempuhi peperiksaan ini dan lulus sebagai doktor, tempuhinya tetapi gagal dan termaksa mengulang selama enam bulan. Atau wajarkah aku melarikan diri terus dari pertempuran ini dan mengulangi tahun lima untuk tempoh setahun lagi?


Tentu sekali Syaitan laknat ingin ku pilih jalan yang terakhir. Namun, andai ku berjaya dalam pilihan pertama ku, mampukah aku menjalankan amanah Allah? Sanggupkah aku menerima beban yang bakal dipikul nanti. Andai pilihan kedua yang menjadi takdirku, mampukah aku bersabar dalam menerima tohmahan dan fitnah yang mungkin timbul nanti?


Ya Allah! Mungkin aku ada sedikit perasaan putus asa dalam aku belajar ini. Namun, janganlah kau biarkan aku berputus asa dari rahmatMU. Hanya dengan rahmatMU, aku bisa merawat kembali putus asaku pada dunia.


Dan aku rapuh ya Allah. Dengarlah tangisan ku dan pujuk lah daku. Agar aku bisa kembali tersenyum melihat indahnya dunia.

Allah Matlamatku, Rasulullah ikutanku, Al Quran pedoman hidup, Syahid impianku.

REVOLUSI MAHASISWA MEMBENTUK PEMIKIRAN MERDEKA

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi darjatnya, jika kamu org-orang yang beriman."[ Surah Al-Imran ayat 139]

Memori Terindah