Sunday, October 14, 2012

Saat diri dipayungi dosa



Saat diri dipayungi dosa, syaitan mula meniupkan irama agar manusia menari diatas garis nafsu. Semakin lama semakin rancak hingga tergelincir ke titik noda. Lantas kau soal hati kecilmu. 

Sudahkah aku jauh dari rahmat dan kasih Allah?

Jiwa resah, otak bercelaru dan hati jua tidak tenteram. Bagaimana bisa ia semua dirawat sebelum terus menjadi kritikal. Sebelum ajal datang menjemput, semestinya ada terdetik satu perasaan di hati.
Semua yang ada disini, yang menghirup udara kurnyaNYA ingin menjadi hamba Allah yang terbaik. Mengharap seribu kemaafan di atas segala khilaf yang dilakukan.

Ruginya jika mati tanpa sempat menuturkan kata-kata taubat. Kubur yang sempit pasti menghimpit. Menderita menanti saat tibanya hari pengadilan.

Tapi! Kenapa sukar benar untuk mencarinya. Lemah tidak berdaya. Mengharap ada yang datang memimpin tangan dan membimbing menuju jalan yang benar. Tapi hingga kini masih belum ada yang bertandang.

Berharap lah pada Allah. Itu sudah semestinya. Namun seperti mana kata bidalan, kambing yang tersesat jauh dari kumpulannya pasti akan lebih senang untuk dibaham serigala. Dan akulah kambing tersesat itu dan syaitanlah serigala yang sedang tertawa.

Harus, bagaimana akhirnya? Apa jalan keluarnya? Bagaimana bisa aku terus merawat luka yang semakin parah ini?
Allah Matlamatku, Rasulullah ikutanku, Al Quran pedoman hidup, Syahid impianku.

REVOLUSI MAHASISWA MEMBENTUK PEMIKIRAN MERDEKA

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi darjatnya, jika kamu org-orang yang beriman."[ Surah Al-Imran ayat 139]

Memori Terindah